TOPIK 3. PENDEKATAN KONSELING DAN PSIKOTERAPI
Edit by Lutvia
Hai hai teman², Assalamu'alaikum wr wb,,
Kembali bersama saya, Lutvia Fitriana, kali ini kita akan belajar bersama mengenai pendekatan konseling dan psikoterapi, pendekatan teroi behavioristik, humanistik maupun psikoanalisis,, untuk selengkapnya simak di blog saya yaaa...
1. PENDEKATAN PSIKOANALISA
Corey (2009) mengatakan bahwa psikonalisis merupakan teori pertama yang muncul dalam psikologi khususnya yang berhubungan dengan gangguan kepribadian dan perilaku neurotis. Psikonalisis diciptakan oleh Sigmund Freud pada tahun 1986.
1.1 Konsep Dasar Psikoanalisis (Freud)
Menurut Freud, tingkah laku manusia ditentukan oleh kekuatan irasional, motivasi bawah sadar (unconsciousness motivation), dorongan (drive) biologis dan instink, serta kejadian psikoseksual selama enam tahun pertama kehidupan. Instink merupakan pusat dari pendekatan yang dikembangkan Freud. Walaupun pada dasarnya menggunakan istilah libido yang mengacu pada energy seksual, ia mengembangkan istilah ini menjadi energi seluruh instink kehidupan. Instink-instink ini bertujuan sebagai pertahanan hidup dari individu dan manusia, berorientasi pada pertumbuhan, perkembangan dan kreativitas. Freud juga mengemukakan manusia memiliki instink mati (death instincts), yaitu instink yang berhubungan dengan dorongan agresif (aggressive drive) dan instink hidup (life instincts). Freud mengemukakan pandangannya bahwa struktur kejiwaan manusia sebagian besar terdiri dari alam ketaksadaran. Sedangkan alam kesadarannya dapat diumpamakan puncak gunung es yang muncul ditengah laut. Sebagian besar gunung es yang terbenam itu diibaratkan alam ketaksadaran manusia.
- Kesadaran (consciousness) yaitu berisikan ide-ide atau hal-hal yang disadari.
- Prakesadaran (subconciousness) yaitu berisikan ide-ide atau hal-hal yang tidak disadari yang sewaktu-waktu dapat dipanggil ke kesadaran.
- Ketidaksadaran (unconsciousness) yaitu berisikan dorongan-dorongan yang sebagian besar sudah ada sejak lahir yaitu dorongan seksual dan agresi dan sebagian lagi berasal dari pengalaman masa lalu yang pernah terjadi pada tingkat kesadaran dan bersifat traumatis, sehingga perlu ditekan dan dimasukan dalam ketidaksadaran.
Freud memandang kepribadian manusia tersusun atas tiga sistem yang terpisah antara satu dengan yang lain, tetapi tetap saling mempengaruhi. Ketiga sistem itu dikenal sebagai berikut:
a. Id
Id merupakan sistem utama kepribadian. Id merupakan aspek biologis yang mempunyai energi yang dapat mengaktifkan ego dan superego. Id telah ada sejak lahir termasuk instink. Dorongan-dorongan untuk memuaskan hawa nafsu manusia bersumber dari id. Id tidak dapat mentolerir peningkatan energy yang dirasakan sebagai suatu ketegangan pada diri seseorang. Id memiliki prinsip kenikmatan (pleasure principle). Id akan berusaha menyalurkan ketegangan dengan segera dan mengembalikan keseimbangan agar kembali pada keadaan tenang dan menenangkan. Pemenuhan Id tidak dapat ditunda, karena itulah id dianggap seperti anak manja yang tidak berpikir logis dan bertindak hanya untuk memuaskan kebutuhan naluriah.
b. Ego
Ego berbeda dengan id yang bekerja hanya untuk memuaskan kebutuhan naluriah, ego bertindak sebaliknya. Ego merupakan bagian yang memiliki kontak dengan realitas dunia luar. Ego bertindak sebagai eksekutif yang mengatur, mengontrol, dan meregulasi kepribadian. Ego dapat dianalogikan sebagai polisi lalu lintas (traffic cop) untuk id, superego dan dunia. Tugas utama ego adalah memediasi antara insting dan lingkungan sekitar. Ego berfungsi untuk mewujudkan kebutuhan pada dunia riil.
c. Superego
Superego berperan sebagai pengatur agar ego bertindak sesuai kebudayaan dan moral masyarakat. Super ego merupakan perwujudan nilai-nilai dan prinsip moral serta cita-cita tradisional masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa super ego berfungsi merintangi dorongan seksual dan agresifitas yang bertentangan dengan moral dan agama atau yang menentukan suatu tindakan adalah benar atau salah.
System Id, Ego dan Superego saling berinteraksi. Jika Ego gagal menyalurkan kehendak Id menurut batasan realita dan nilai-nilai moral, ia akan dihukum dengan kecemasan. Menurut Freud terdapat tiga kecemasan yang dapat dialami individu yaitu :
- Kecamasan realitas yaitu ketaukan menghadapi realita disekitarnya.
- Kecemasan moral yaitu ketakutan tidak mampu mengatasi suatu keadaan yang belum terjadi.
- Kecemasan neurotik yaitu ketakutan akibat rasa bersalah atau ketakutan akan hukuman oleh nilai-nilai yang ada pada hati nuraninya.
Individu selalu berusaha menghindari kecemasan dengan cara defence mechanism atau mekanisme pertahanan diri:
- Distorsi yaitu pertahanan dengan penyangkalan kenyataan hidup.
- Proyeksi yaitu pertahanan dengan menyalahkan orang lain atas kesalahannya.
- Regresi yaitu pertahanan dengan mundur ke fase perkembangan sebelumnya.
- Rasionalisasi yaitu pertahanan dengan membuat alasan masuk akal guna membenarkan tindakannya sehingga diterima oleh orang lain.
- Sublimasi yaitu pertahanan dengan mengganti dorongan yang tidak diterima sosial ke dorongan yang dapat diterima.
- Displacement yaitu pertahanan dengan mengganti perasaan agresif dari sumber aslinya ke yang kurang penting.
- Identifikasi yaitu pertahanan dengan menambah rasa harga diri dengan menyamakan dirinya dengan orang lain yang terkenal.
- Kompensasi yaitu pertahanan dengan menutupi kelemahan dengan menambah rasa harga diri dengan jalan memuaskan atau menunjukkan sifat tertentu secara berlebihan karena frustasi dalam hal lain.
Freud mengemukakan perkembangan psikoseksual yang merupakan dasar pemahaman terhadap permasalah yang dialami oleh konselig. Dalam pendekatan psikoanalisis terdapat lima fase perkembangan psikoseksual yaitu):
- Fase oral (0-1 tahun) organ pertama yang menjadi pusat kenikmatan adalah mulut, maka perkembangan seksual itu dimulai pada fase oral. Anak memperoleh kepuasan dan kenikmatan melalui tindakan menghisap dan menggigit. Jika mengalami masalah pada tahap ini maka kelak mengakibatkan masalah kepribadian yaitu ketidakmampuan berhubungan dengan orang lain, tidak dapat mencintai dan mempercayai orang lain, isolasi diri dan penolakan afeksi.
- Fase anal (2-3 tahun) organ kedua yang menjadi pusat kenikmatan adalah anus. Pusat kenikmatan terletak pada daerah anus yaitu melalui menahan dan mengeluarkan terutama pada saat buang air besar. Pelatihan buang air diiringi reaksi orang tua terhadap anak akan mempengaruhi pembentukan kepribadian anak.
- Fase phallic (4-5 tahun) dimana anak mulai memindahkan pusat kepuasan pada daerah kelamin, anak mulai belajar menerima perasaan seksual secara alamiah dan tertarik perbedaan anatomi laki-laki dan perempuan serta pembentukan identitas seksual. Pada anak laki-laki masa phallic ini dikenal sebagai oedipus complex yang menempatkan ibu sebagai objek cinta bagi anak-anak lakinya. Sedangkan pada anak perempuan masa phallic disebut juga dengan electra complex dimana anak perempuan mencari cinta dan penerimaan ayah. Kegagalan pada tahap ini akan mengakibatkan kebingungan akan peran seks yang wajar.
- Fase laten (6-12 tahun atau masa remaja) selama periode ini berbagai kekangan seksual berkembang. Salah satu mekanisme yang digunakan untuk mengalihkan energi seksual disebut sublimasi atau pemindahan libido kepencarian tujuan baru. Fase ini juga disebut sebagai masa tenang dimana minat seksual digantikan oleh minat pada sekolah, teman bermain, olahraga dan berbagai aktifitas yang baru bagi anak.
- Fase genital (12 tahun ke atas) Pada tahap ini dimulai pada saat mestruasi atau pubertas, dimana alat-alat reproduksi seksual mulai matang dan energi psikis libido diarahkan untuk hubungan heteroseksual.
1.2 Asumsi Perilaku Bermasalah
Pribadi yang tidak sehat/ tingkah laku bermasalah menurut pendekatan psikoanalisis adalah pribadi yang :
- Tidak dapat mengontrol system id, ego dan superego.
- Adanya kegagalan pada tahap perkembangan atau proses belajar sejak kecil.
1.3 Tujuan Konseling
Tujuan psikoanalisis secara perinci juga dikemukakan oleh Nelson Jones, antara lain:
- Bebas dari impuls.
- Memperkuat realitas atas dasar fungsi ego.
- Mengganti superego sebagai realitas kemanusiaan, bukan sebagai hukuman standar moral.
Jadi hal yang paling ditekankan dalam psikoanalisis adalah perasaan-perasaan dan ingatan yang berkaitan dengan pemahaman diri, meskipun aspek kognitif juga patut dipertimbangkan. Pada proses konseling, konselor akan bersikap anonim, artinya konselor berusaha tak dikenal konseli, dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya, sehingga konseli dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis. Fungsi utama mampu menangani kecemasan serta realistis dan mampu mengendalikan tingkah laku yang impulsive dan irasional.
1.4 Teknik Konseling
- Asosiasi bebas yaitu konseli diupayakan untuk menjernihkan atau menikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari – hari sekarang ini, sehingga konseli mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya.
- Interpretasi adalah teknik yang digunakan oleh konselor untuk menganalisis asosiasi bebas, mimpi, resistensi, dan transferensi konseli. Konselor menetapkan, menjelaskan, dan bahkan mengaajar konseli tentang makna perilaku yang termanifestasi dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi, dan transferensi konseli.
- Analisis mimpi yaitu suatu teknik untuk membuka hal –hal yang tak disadari dan memberi kesempatan konseli untuk memilik masalah – masalah yang belum terpecahkan. Proses terjadinya mimpi adalah karena diwaktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesakpun muncul ke permukaan.
- Analisis Resistensi ditunjukan untuk menyadarkan konseli terhadap alasan – alasan terjadinya resistensinya. Konselor meminta perhatian konseli untuk menafsirkan resistensi. Penafsiran analisis atas resistensi ditujukan untuk membantu konseli agar menyadari alasan – alasan yang ada di balik resistensi sehingga dia bisa menanganinya.
- Analisis Tansferensi adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis sebab mendorong konseli untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. Ia memungkinkan konseli mampu memperoleh pemahaman atas sifat dari fiksasi – fiksasi dan deprivasi – deprivasinya, dan menyajikan pemahaman tentang pegaruh masa lampau terhadap kehidupannya sekarang.
Alasan
Menurut saya pendekatan psikoanalisis dapat dikatakan baik karena sangat mementingkan proses perkembangan dimasa kanak-kanak yang memang merupakan fase-fase terpenting yang akan membentuk kepribadian seseorang hingga dewasa. Seperti contoh ketika anak melakukan kesalahan orang tua akan memukulnya atau memakinya yang sangat berpeluang untuk dilakukan kembali kepada anak dan kelakkonselor dalam psikonalisis adalah membantu konseli mencapai kesadaran dirinya, jujur, mampu melakukanhubungan personal yang efektif menimbulkan perilaku bullying di sekolah atau bahkan sebaliknya, contohnya ketika seorang anak terjatuh ketika sedang berlari karena tersandung kaki meja dan orang tua memukul meja dan berkata “nakal ya mejanya sampai bikin kamu jatuh” kelak saat beranjak dewasa, anak tidak akan mengakui kesalahan yang ia perbuat justu akan menyalahkan orang lain atas kesalahannya.
2. PENDEKATAN BEHAVIORISTIK
Dalam jurnal paradigm yang ditulis Sigit Sanyata (2012 : 10-11) Behavioristik merupakan salah satu pendekatan teoritis dan praktis mengenai model pengubahan perilaku konseli dalam proses konseling dan psikoterapi. Pendekatan behavioristik yang memiliki ciri khas pada makna belajar, conditioning yang dirangkai dengan reinforcement menjadi pola efektif dalam mengubah perilaku konseli. Pandangan deterministik behavioristik merupakan elemen yang tidak dapat dihilangkan Pendekatan behavioristik menekankan pentingnya lingkungan dalam proses pembentukan perilaku. Pendekatan ini bertujuan untuk menghilangkan tingkah laku salah suai, tidak sekedar mengganti simptom yang dimanifestasikan dalam tingkah laku tertentu. Dengan pendekatan behavior, diharapkan konseli memiliki tingkah laku baru yang terbentuk melalui proses conditioning, hilangnya simptom dan mampu merespon terhadap stimulus yang dihadapi tanpa menimbulkan masalah baru.
2.1 Teknik Behavior
Gerald Corey, 1988 (dalam Wahyudi, 2017) Behavior merupakan salah satu teknik guna merubah tingkah laku yang lebih adaptif. Pendekatan ini dirasa lebih efektif untuk menangani kasus-kasus dalam dunia pendidikan, khususnya maladaptive. Berfokus pada modifikasi tingkah laku menjadi ciri yang sangat menonjol dalam teknik behavior. Teknik ini berkembang mulai tahun 1950-an hingga sekarang, teknik behavior masih relevan untuk diterapkan. Penting untuk diketahui bahwa behavior ini merupakan aspek gerakan memodifikasi tingkah laku pada taraf yang masih bias didefinisikan secara operasionanl, diamati dan diukur. Manusia mempunyai potensi positif dan negativ yang bias jadi terbentuk karena factor lingkungan social budaya. Adapun ciri behavior dapat dilihat dari :
- Pemusatan perhatian kepada tingkah laku yang tamapak
- Kecermatan dan penguraian tujuantujuan treatment.
- Perumusan prosedur treatment yang spesifik sesuai dengan masalah
- Penaksiran objektif atas hasil-hasil terapi.
Arah dari behavior dasarnya adalah mengarah pada perolehan tingkah laku baru yang lebih adaptif, sehingga dapat menghapus tingkah laku yang maladaptive. Serta tingkah laku dapat diasosiasikan dengan tingkah aku yang nampak, dan berpusat pada here and Now. Semua tingkah laku dapat dipelajari baik yang adaptif maupun yang maladaptive. Belajar merupakan cara efektif mengubah tingkah laku maladaptif.
Gerald Corey, 1988 (dalam Wahyudi, 2017) menuturkan macam-macam teknik behavior antara lain:
a. Desensititasi
Sitematik Ini merupakan salah satu teknik paling luas dalam behavior. Desensititasi sitematik digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif, dengan menyertakan pemunculan tingkah laku yang hendak dihapuskan. Hal ini klien diarahkan untuk menampilkan suatu respon yang tidak konsisten dengan kecemasan. Wolpe dalam bukunya corey membagi prosedur desensitisasi pertama-analisis tigkah laku atas stimulus-stimulus yang bias membangkitkan kecemasan dalam suatu wilayah tertentu seperti penolakan, rasa iri. Kedua-lahatian relaksasi. Ketiga-membuat keadaan klien santai dengan mata tertutup.
b. Asertif
Klien belajar untuk membedakan tingkah laku agresif, pasif dan asertif. Tujuannya agar klien blajar bertingkah laku asertif.
c. Aversi
Tehnik ini untuk meredakan gangguan behavior yang spesifik. Agar tingkah laku sesuai yang diinginkan, maka stimulannya adalah berupa hukuan-hukuman.
d. Skedul
penguatan Memperkuat tingkah laku yang muncul. Maka stelah perilaku terbentuk, maka penguatan dikurangi, tambahan dari Jeanette Murad Lesmana (2005 : 30)
e. Shapping
Tingkah laku yang dipelajari secara bertahap dengan pendekatan suksesif. Untuk itu konselor membagi secara terinci supaya klien dapat belajar dengan detail dan terici.
f. Teknik Relaksasi
Teknik yang digunakan untuk membantu konseli mengurangi ketegangan fisik dan mental dengan latihan pelemasan otot-ototnya dan pembayangan situasi yang menyenangkan saat pelemasan otot-ototnya sehingga tercapai kondisi rilek baik fisik dan mentalnya.
g. Teknik Flooding
Teknik yang digunakan konselor untuk membantu konseli mengatasi kecemasan dan ketakutan terhadap sesuatu hal dengan cara menghadapkan konseli tersebut dengan situasi yang menimbulkan kecemasan tersebut secara berulang-ulang sehingga berkurang kecamasannya teradap situasi tersebut.
h. Reinforcement Technique
Teknik yang digunakan konselor untuk membantu meningkatkan perilaku yang dikehendaki dengan cara memberikan penguatan terhadap perilaku tersebut.
Modelling Teknik untuk memfasilitasi perubahan tingkah laku konseli dengan menggunakan model.
i. Cognitive restructuring
Teknik yang menekankan pengubahan pola pikiran, penalaran, sikap konseli yang tidak rasional menjadi rasional dan logis.
j. Self Management
Teknik yang dirancang untuk membantu konseli mengendalikan dan mengubah perilaku sendiri melalui pantau diri, kendali diri, dan ganjar diri.
k. Behavioral Rehearsal
Teknik penggunaan pengulangan atau latihan dengan tujuan agar konseli belajar ketrampilan antarpribadi yang efektif atau perilaku yang layak.
l. Kontrak
Suatu kesepakatan tertulis atau lisan antara konselor dan konseli sebagai teknik untuk memfasilitasi pencapaian tujuan konseling. Teknik ini memberikan batasan, motivasi, insentif bagi pelaksanaan kontrak, dan tugas-tugas yang ditetapkan bagi konseli untuk dilaksanakan anatr pertemuan konseli.
m. Pekerjaan Rumah
Teknik yang digunakan dengan cara memberikan tugas / aktivitas yang dirancang agar dilakukan konseli antara pertemuan konseling seperti mencoba perilaku baru, meniru perilaku tertentu, atau membaca bahan bacaan yang relevan dengan maslah yang dihadapinya.
o. Extinction (Penghapusan)
Extinction (Penghapusan) adalah menghentikan reinforcement pada tingkah laku yang sebelumnya diberi reinforcement.
p. Punishment (Hukuman)
Hukuman (Punishment) merupakan intervensi operant-conditioning yang digunakan konselor untuk mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan.
q. Time-out
Time-out merupakan teknik menyisihkan peluang individu untuk mendapatkan penguatan positif. Winkel, 1997 (dalam Wahyudi, 2017) melengkapi dengan beberapa rangkaian behavioristic dalam konseling, ABC (Antecedent-BehaviorConsequence). Antecedent adalah kejadian-kejadian yang mendahului behavior, sedangkan consequence adalah efek yang mengikuti atau berlangsung setellah behavior.
3. PENDEKATAN HUMANISTIK
Pada tahun 1950, muncul aliran humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertengahan. Terdapat beberapa ahli psikologi yaitu Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakas yang mendirikan sebuah asosiasi profesional berupaya untuk mengkaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia, seperti tentang self (diri), kesehatan, harapan, cinta, aktualisasi diri, kreativitas, hakikat, individualitas dan sejenisnya.
Humanisme adalah filsafat bimbingan konseling dan praktik pendidikan dipahami memiliki banyak unsur yang beragam (Hansen, 2006). Prinsip yang menyatukan unsur-unsur yang beragam adalah gagasan bahwa manusia tidak dapat direduksi ke fenomena lain (Davidson, 2000) yang dimaksud adalah manusia hanya dapat dipahami sebagai makhluk keseluruhan (Perepiczka and Scholl, 2012).
Konseling adalah kegiatan profesional yang melibatkan hubungan antara konselor dengan individu atau sekelompok individu (Hariko, 2017.) Hakikat dari konseling humanistik menekankan bahwa filosofi tentang apa artinya menjadi seorang manusia. Psikolog humanistik mencoba untuk melihat kehidupan manusia sebagaimana manusia itu sendiri melihat kehidupan mereka. Mereka lebih cenderung untuk berpegang pada prespektif optimistik tentang sifat alamiah manusia. Manusia atau individu pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk berfikir rasional dan irasional (Rahma W.N & Zulfikar. Z, 2014). Mereka berfokus pada kemampuan yang dimiliki manusia untuk berpikir secara sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi maksimal mereka. Bebas memilih untuk menentukan nasib sendiri, kebebasan dan tanggung jawab, kecemasan sebagai suatu unsur dasar, pencarian makna yang unik didalam dunia yang tak bermakna, berada sendiri dan berada dalam hubungan dengan orang lain keterhinggaan dan kematian, dan kecenderungan mengaktualkan diri. Terdapat beberapa tujuan konseling eksistensial humanistic menurut Gerald Corey (2010) yaitu:
Agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Keotentikan sebagai “urusan utama psikoterapi” dan “nilai eksistensial pokok”. Terdapat tiga karakteristik dari keberadaan otentik :
- Menyadari sepenuhnya keadaan saat ini
- Memilih bagaimana hidup pada saat ini
- Memikul tanggung jawab untuk memilih.
- Meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
- Membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri, dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekadar korban kekuatan-kekuatan deterministik di luar dirinya.
Terdapat tiga langkah yang dilakukan dalam konseling eksistensial Corey (2013) antara lain:
- Tahap pendahuluan, konseli mengklarifikasi asumsinya terhadap dunia dan pengalamannya yang dibantu oleh konselor. Konseli dituntun dalam mendefinisikan dan menanyakan tentang cara mereka memandang dan menjadikan eksistensi mereka bisa diterima;
- Tahap pertengahan, konseli memaparkan lebih lanjut tentang nilai yang mereka anut dalam berperilaku dan menjalani hidup mereka;
- Tahap pengakhiran, konseling berfokus pada menolong konseli untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka sendiri. Proses ini yang akan membuat remaja dapat menyadari baik dan buruknya suatu perilaku dan selanjutnya membentuk konsep diri yang positif, yang sesuai dengan aturan/ norma-norma yang ada dan pada akhirnya mampu menghargai dirinya. Salah satu kontribusi penting yang dibuat oleh Carl Rogers dan para koleganya adalah memulai mempraktikkan perekaman sesi konseling, dengan demikian rekaman tersebut dapat digunakan untuk rujukan riset dan pengajaran. Hasil dari kebijakan ini adalah. Beberapa rekaman Carl Rogers yang sedang melakukan terapi. Rekaman-rekaman ini tak ternilai harganya, dan telah digunakan secara luas oleh para akademis dan periset yang tertarik kepada karakteristik konseling dan psikoterapi person-centered. Farber, et al (1996), telah mengkompilasi buku yang mempresentasikan sepuluh kasus yang ditangani Rogers, berikut komentar dari dua praktisi person-centered dan dari representatif aliran terapi lain. Kedua editor buku ini, Brink dan Farber (1996), menyajikan analisis berbagai respons Rogers terhadap klien dalam kasus-kasus ini. Berikut ini adalah dua diantaranya:
- Menyajikan orientasi. Rogers cenderung memulai sesi dengan memberikan kesempatan kepada dirinya dan klien untuk memosisikan diri mereka terhadap tugas yang akan dilakukan. Misalnya, Rogers memulai satu sesi konseling dengan berkata, "Sekarang, Anda dapat duduk… Saya butuh satu atau dua menit untuk dapat mengonsentrasikan diri saya, oke?... Jadi, mari kita berdiam satu atau dua menit (pause) Apakah Anda sudah siap?"
- Mengafirmasi perhatian. Biasanya Rogers membiarkan para kliennya mengetahui bahwa dia ada dan mendengarkan, dengan mencondongkan tubuhnya ke depan dan menggumamkan m-hm, m-hm atau mengangguk tanda setuju.
- Mengecek pemahaman. Sering kali Roger mengecek apakah pemahamannya terhadap apa yang diucapkan klien sudah benar.
- Menyatakan kembali. Sering kali kalimat Rogers benar-benar merupakan pantulan dari apa yang diucapkan oleh klien. Dalam kesempatan lain, pernyataan kembali dilakukan dalam bentuk pernyataan pendek yang mengklarifikasi inti pernyataan klien, sebagaimana contoh berikut ini:
- Klien: Dan saya juga mengizinkan diri saya, dan saya tidak mengharapkan perhatian, kasih sayang atau apa saja, tapi Anda tahu, saya seperti seorang anak kecil. Saya seorang anak kecil dalam hal suka disayangi, semacam resiprositas. Dan saya pikir, saya akan mulai mengharapkan hal tersebut tanpa harus menjadi dingin atau semacam itu. Tapi, saya juga berharap mendapatkan sesuatu sebagai imbalan. Rogers: Anda ingin cinta bersifat mutual.
Klien: Tentu, tentu
Adakalanya Rogers melakukan pengulangan pernyataan tersebut dalam bentuk orang pertama, layaknya berbicara sebagai klien.
Mengungkap perasaan klien yang belum dinyatakan. Respons ini menyertakan pembuatan referensi terhadap perasaan yang diekspresikan dalam perilaku non-verbal atau kualitas suara, atau tidak secara langsung oleh klien.
Memberikan penguatan. Dalam kasus Gloria yang terkenal, terdapat beberapa saat penguatan. Misalnya:
Gloria: Saya tidak bisa mendapatkannya sesering yang saya mau… saya suka semua perasaan tersebut, semua itu sangat berharga bagi saya.
Rogers: Saya kira taka da satu pun dari kita akan mendapatkannya sesering yang kita inginkan.
Adakalanya pula Rogers mengomunikasikan penguatan dengan menyentuh klien atau merespons permintaan klien untuk dipegang tangannya.
Menginterpretasikan. Sesekali, Rogers membuat interpretasi, disebut sebagai perjalanan menembus informasi yang akan segera disampaikan oleh klien
Mengkonfrontasi. Terkadang Rogers mengkonfrontasi seorang klien yang terlihat takut atau menghindari isu yang sulit atau menyakitkan
Mengarahkan petanyaan. Contoh dari respons ini adalah r.easphons terhadap seorang klien yang merasa berbeda. Rogers memancing eksplorasi lebih jauh terhadap topik ini dengan menanyakan kepada orang tersebut "dan apa perbedaan-perbedaan yang Anda maksud?".
Balik bertanya. Saat klien meminta bimbingan atau jawaban sering kali Rogers mengembalikan Permintaan tersebut kepada si peminta. Misalnya:
Gloria: Saya sangat sadar bahwa Anda tidak akan dapat memberikan jawaban kepada saya. Tapi saya ingin Anda membimbing saya atau menunjukkan kepada saya dimana saya harus memulai atau yang semisal, sehingga tidak terlihat tak memiliki harapan…
Rogers: Jika saya boleh bertanya, apa yang Anda inginkan untuk saya ucapkan?
Mempertahankan dan memecahkan kesunyian. Dalam beberapa sesi terlihat Rogers membiarkan kesunyian terjadi (dalam satu kesempatan, sampai 17 menit lamanya!). Dalam skesempatan lain, ia berusaha untuk memecahkan kesunyian tersebut.
Membuka diri. Misainya, kepada salah seorang klien, Rogers berkata, "Saya tidak tahu apakah ini akan menolong atau tidak, tapi yang ingin saya sampaikan adalah saya pikir saya dapat dengan jelas memahami mengapa Anda begitu tidak menarik di mata orang-orang. Sebab, ada suatu saat ketika diri saya juga merasakan hai yang sama. Dan saya tahu bahwa hal ini bisa jadi suatu yang sangat sulit".
Menerima pembetulan. Ketika salah seorang klien menunjukkan bahwa salah satu respons Rogers tidak akurat, dia akan menerima koreksi tersebut, mencoba lagi untuk membuat hal tersebut benar dan kemudian terus melaju. Brink dan Farber (1996) tidak mengklaim bahwa daftar dari respons ini merepresentasikan analisis komprehensif tentang semua strategi atau teknik terapeutik yang digunakan oleh Rogers. Akan tetapi, mereka memang berpendapat bahwa daftar di atas mengilustrasikan kemungkinan pengekspresian berbagai bentuk dalam hubungan melalui kondisi empati, kongruen, dan penerimaan yang bersifat fasilitatif. Mereka juga mengamati bahwa Rogers bersikap berbeda untuk tiap klien. Dengan demikian jelas bahwa daftar Brink dan Farber melingkupi respons yang tidak secara khusus konsisten dalam terapi person-centred, terutama penguatan dan interpretasi. Pelajaran yang ada di sini adalah mungkin jauh lebih berharga menjadi manusia ketimbang terlalu lengket kepada model teoretis.
REFERENSI
Corey, G. (2010). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi (edisi keenam). Bandung: PT Refika
Aditama.
Corey, G. (2013). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi (edisi ketujuh). Bandung: PT Refika Aditama.
Davidson, L. (2000). Philosophical foundations of humanistic psychology. Humanistic Psychologist, 28, 7-31.
Hariko, R. (2017). Landasan filosofis keterampilan komunikasi konseling. Jurnal Kajian Bimbingan dan Konseling, 2(2), 41-49.
Jeanette Murad Lesmana. 2005. Dasar-dasar Konseling. Jakarta: UI Press.
Larasati, A. 2019. Psikologi Konseling. Jakarta Pusat:Universitas Persada Indonesia YAI
Nita, R.W., & Zulfikar, Z. (2014). Menciptakan suasana belajar yang kondusif bagi siswa dan mahasiswa melalui analisis pendekatan rasional emotif terapi dan hypnolearning. UNIMED
Sigit, Sanyata. 2012. Teori dan Aplikasi Pendekatan Behavioristik dalam Konseling. Jurnal Paradigma. No. 14 Th. VII, Juli.
Wahyudi, Muchamad Agus Slamet. Konsep Pendekatan Behavior Dalam Menangani Perilaku Indisipliner Pada Siswa Korban Perceraian, Jurnal Konseling GUSJIGANG Vol. 3 No. 1. Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga




Komentar
Posting Komentar